SELAMAT DATANG

Membaca Adalah Jendela Dunia

Jumat, 14 Juni 2013

Lautan Kasih Sang Ibu

Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus nan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikankan
Kita semua pasti sudah pernah mendengar lagu tersebut. Cuplikan lagu yang dinyanyikan oleh group band potret merupakan ungkapan kata terima kasih kepada seorang ibu. Sembilan bulan ibu mengandung, berjuang mati-matian mempertaruhkan nyawa, keadaan yang membosankan di hadapi dengan penuh kesabaran. Tak pernah ada keluh dan kesah demi melahirkan putra-puterinya dengan selamat. Eksistensi seorang ibu mengalami konflik baik secara vertikal kepada tuhan maupun secara horizontal dengan sesama manusia dan alam. Karena, sejatinya kehidupan ini memang merupakan proses berdealektika dengan konflik-konflik realitas. Dalam realitas kehidupan, manusia bukanlah sebuah cetakan yang sudah selesai dan permanen. Tetapi, manusia akan menjalankan proses meraih eksistensinya dalam beberapa tahap. Kita sering kali melihat sahabat-sahabat kita bahkan diri kita sendiri jatuh bangun, naik turun, tawa tangis, bergantian singgah di kehidupan. 
Begitu pula ketika kita melihat eksistensi seorang ibu dan buah hatinya. Tidak semua orang yang mengarungi hidup di dunia ini dapat merasakan dekapan kasih sayang seorang ibu, karena banyak sebab yang melatar belakanginya. Ada yang disebabkan ibunya meninggal dunia, ibunya terlalu sibuk bekerja, ibunya terlalu keras. Bahkan ada yang kehadirannya tidak dikehendaki oleh sang ibu atau karena keadaan-keadaan lain yang membuat sang ibu kita terpaksa berpisah dengan buah hatinya.
Namun, perlu kita renungi bahwa hampir semua ibu selalu memiliki telaga kasih sayang yang tidak akan pernah kering. Dalam realitas hidup ini masih banyak kita menemukan seorang ibu yang bekerja mati-matian agar buah hatinya bisa sekolah, bisa makan, bisa menikmati hari-hari seperti anak-anak lain pada umumnya , meski harus membanjiri air keringat dengan sekedar mengumpulkan barang rongsokan atau sampah kering untuk mendapatkan uang, sang ibu tidak pernah mengeluh.
Ada juga yang menjadi pembantu rumah tangga, tukang sapu, bahkan tukan sampahpun sang ibu kerjakan. Tidak heran jika sang ibu masih tetap eksis serta penuh semangat meski ditinggalkan suaminya, sebab energi cinta yang melekat pada jiwanya sengguh besar dan menjadikan kuat.
Ada kontaradiktif di sini, ketika seorang anak lebih sering menuntut dari ibunya tanpa berani memunculkan petanyaan, apa yang telah saya berikan kepadanya. Banyak sekali, mungkin jika dihitung-hitung pemberian ibu pada kita lebih dari banyak. Sehingga kita kadang tidak pernah berpikir sedikitpun tentang hal itu. Bahkan untuk masa-masa sekarang seorang ibu dituntut untuk terjun dan berperan di sektor publik dan domestik sekaligus. Sesempurna mungkin. Seolah tidak cukup sampai distu saja, masyarakat masih saja menuntut. Sang ibu selalu menjadi kambing hitam ketika sang buah hatinya mengalami kecelakaan moral, setiap prilaku keburukan yang dilakukan buah hatinya seoalah-olah adalah pantulah sang ibu.
             Mungkin karena itulah, seorang ibu harus mampu dan bisa bersikap seperti laut. Hamparan airnya yang tidak pernah kering. Hal ini selaras dengan kasih sayang ibu yang tidak pernah habis. Dengan cinta kasih sayang yang tidak akan bertepi dan selalu sejuk mengalir dihati anak-anaknya.
            Lautpun tidak pernah protes meski manusia terus-menerus mengotorinya dengan segala kotoran sampah. Dan begitulah jiwa seorang ibu memilih rela menerima perlakuan apapun dari anak-anaknya. Dengan menjadikan bagian pengabdian diri kepada Allah SWT. Meski, kadang sang ibu dibantah, kadang diprotes, kadang sering pula dicela karena tidak sempurna menunaikan tugasnya sebagai seorang ibu.
            Tidak sedikit dari kalangan kita berpikir buruk pada seorang ibu. Katakanlah ketika terungkap kabar baik itu pada media koran ataupun berita media TV, seoarang ibu telah tega membuang anaknya. Namun, bagi anaknya, dia toh tetap berjasa saat berjuang keras bahkan bertaruh nyawa demi melahirkan sang anak.
            Karena itulah, seburuk-buruk seorang ibu di mata sang anak, ia tetap saja manusia mulia yang doanya untuk anak-anaknya tidak akan terhijab oleh Allah SWT. Bahkan bisa jadi, doa sang ibu untuk kita lebih didengar dari doa kita sendiri. Satu dua dari kelakuannya terkadang tidak kita sukai, tetapi terkadang juga kita terlalu tergesa-gesa menarik benang merah dari apa yang telah diperbuatnya. Bahkan lupa, bahwa batin seorang ibu selalu penuh dengan cinta dan kasih sayang .
            Marilah sejenak merenung kembali, hal apa yang telah kita berikan kepada sang ibu. Sudah saatnya, kita belajar memahami perlakuan sang ibu pada diri kita. Belajar cara memahami ibu mencintai kita, yang mungkin satu dua hal yang selalu mengalami konfrontasi dengan aspirasi kita. Maafkanlah kita ibu. Sebagaimana ibu pun selalu memaafkan kita.
Sby, 04-06-13
       02.00


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar